Ada beberapa kalimat yang berasal dari pemikiranku. Apa yang aku alami tertuang dalam sebuah kalimat. Berkat seorang teman yang tidak lain adalah ketua senatku maka beberapa kalimat inipun aku tuliskan..
Di suatu keadaan, orang yang paling dekat dengan kita, dialah sebenarnya yang kita lupakan” _Antania S.Y_
“Dengarkan, percaya dan yakinlah apa kata hatimu. dia akan membuatkan jalan untuk hidupmu seberapa sulitnya jalan itu” _Antania S.Y_
“Ada sesuatu tak terdefinisikan yang pada awalnya tidak berubah ternyata berubah. Cintalah yang mengubah itu menjadi positif ataupun negatif. Cinta pula yang membuat hati seorang anak manusia menjadi kaya” _Antania S.Y_
Aku berterima kasih karena Allah mempertemukan aku dengannya. Bertemu dengannya dan menjalankan Senat periode 2008 sangat indah dan menyenangkan. Bagaimana tidak, kami berpikir untuk sebuah kemajuan organisasi, memikirkan regenerasi, itu sangat menyenangkan. Hal itu yang membuatku bertahan dan bertegar hati dalam menjalankan kuliahku selama 1 tahun ini. Aku ingin di dengar, aku ingin bertanya, aku ingin memiliki sebuah alasan, aku ingin berpendapat, aku ingin mempertahankan argumen, aku ingin menghargai dan bertanggung jawab atas keputusanku, aku ingin terbuka, aku ingin bergaul. Semuanya yang tidak aku dapat di rumah, aku dapat disini, bersama mereka.
Aku berat meninggalkan Senat. Berganti masa jabatan inilah yang membuatku sedih. Tapi, inilah hidup. Berharap generasi selanjutnya lebih baik. ^_^
Tapi sekarang hampir oleng karena berbeda pemimpin, maka berbeda pula pemikirannya. Aku yang masih bertahan 1 tahun lagi akan menjaganya, mengawasinya, dan tetap merangkulnya.
Semoga wahyu bisa tenang meninggalkan semua ini. Aku ingin menjaganya, ingin memilikinya selamanya, tapi tidak mungkin. Siklus hidup terus berjalan dan masih ada masa depan gemilang yang menanti lebih indah.
1 tahun ini berat bagiku menjalankannya. Aku berbohong kepada orang tuaku bahwa aku tidak akan ikut organisasi lagi setelah keluar dari HMM. Aku tidak bisa. Hatiku ada di dunia ini. Inilah duniaku. Aku tidak tahu harus bagaimana jika aku tidak berada di lingkungan ini. Akhirnya dengan penuh dosa aku menjalankan jabatan sebagai Wakil Wahyu di Senat. Bersamanya memikirkan membuat sebuah wadah ini berfungsi sebagaimana mestinya. Banyak hambatan yang kami alami, banyak tentangan dari beberapa pihak, berkonflik, tapi aku senang menjalaninya. Inilah yang membuatku “hidup.”
Andai orang tuaku mengetahuinya, entah bagaimana reaksi mereka. Aku sadar aku salah, aku melanggar janji. Tapi bagaimana dengan hatiku yang menginginkannya?? Haruskah aku seperti mayat berjalan padahal aku masih hidup.
“Ibu-bapak, maaf karena aku telah membohongi kalian. Aku akan mempertanggung jawabkan janjiku yang ingkar ini di hadapan-Nya. Aku hanya ingin kalian mengerti bahwa aku seperti ini. Aku ingin bisa berpendapat apda saat bagaimanapun kondisi keluarga kita. Aku ingin memiliki keputusan sendiri. Aku ingin membela diri, aku punya pendapat sendiri, aku punya pandangan sendiri, aku punya inisiiatif yang tidak pernah kalian sadari. Kapan kalian menyadari dan mengakui bahwa aku bisa bertanggung jawab atas diriku dan untuk jalan hidupku. Seberat inikah aku menjajaki dunia kedewasaan? Aku butuh kalian membimbingku, tapi tidak seperti ini. Hatiku memberontak tapi apa dayaku? Aku ingin menikmati ini semua. Akupun akan melindungi adik-adikku dan tidak akan membiarkan mereka kehilangan masa-masa terindah mereka. Merekapun sudah bisa menilai mana yang benar. Tidak sadarkan kalian? Kami sudah bukan anak-anak lagi.”
Aku sedih kalau seperti ini kondisinya.
aku hanya bisa menahan hati dan menangis di kamar mandi saat mandi. Kamar mandi tempat mengadu ternyaman di rumah.
Haruskah adik-adikku merasakan dan mengalami hal yang sama denganku?
NEVER!